Selasa, 12 Juli 2011
MAKRIFAT DAN MANUSIA DAN ALAM DUNIA JASMANI
KATA “dunia” berasal dari akar kata dana-dania, yang artinya “rendah.” Dikatakan “rendah” karena alam dunia, dalam pandangan sufistik dan filosofis, merupakan alam yang terendah dari hierarki kosmologis, di atas mana terdapat alam-alam lain, yang telah kita diskusikan, seperti alam misal dan alam makna atau ruhani. Alam dunia ini disebut juga alam elemental, karena terdiri dari berbagai unsur (elemen), seperti tanah, air, udara dan api. Alam ini juga disebut alam fisik atau jasmani, karena terdiri dari jasad atau tubuh, baik yang organik maupun in-organik.
Alam dunia secara hirarkis terdiri dari beberapa tingkat eksistensi, yaitu mineral, tumbuhan dan hewan. Masing-masing level inipun juga memiliki tingkatannya secara hirarkis. Jadi di antara benda-benda mineral, yang terdiri dari batu-batuan dan logam-logaman, juga terdapat derajat yang membedakan kualitas masing-masing; maka kita bisa membedakan, misalnya, antara logam kasar dan logam mulia, seperti besi, tembaga, perak dan emas. Tapi bahkan di antara emas sendiri terdapat perbedaan kualitas yang ditandai dengan “karat” sehingga ada emas 24 karat (emas murni), ada emas 21 karat dan juga ada yang 18 karat. Demikian juga bartu-batuan, dari batu koral sampai jamrut dan intan permata yang kadang-kadang mencapai ratusan bahwa ribuan karat.
Dunia tumbuhan secara keseluruhan tentu lebih tinggi dibanding dengan dunia mineral, karena tumbuh-tumbuhan betatapun rendahnya tingkat mereka memiliki kecakapan (bahkan kadang-kadang disebut jiwa) yang tidak dimiliki oleh dunia mineral. Daya-daya atau jiwa yang ada pada dunia tumbuhan ini adalah daya tumbuh itu sendiri (growth), yang menyebabkan tumbuhan bisa tumbuh dari benih yang kecil menjadi pohon yang besar, daya makan (nutritive faculty), yang menyebabkan tumbuhan mampu mencerna makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, dan yang terakhir daya reproduktif, yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan bisa berkembang biak. Dengan daya-daya tersebut maka dunia tumbuhan menunjukkan kualitas-kualitas tertentu yang menyebabkan mereka berbeda dengan benda-benda mineral yang mati. Dengan daya-daya itu tumbuh-tumbuhan telah memiliki ciri-ciri kehidupan, sehingga mereka adalah makhluk hidup (organik) pertama, sedangkan dunia mineral betapapun indahnya tetap dikatakan benda-benda mati (inorganik). Itulah sebabnya daya-daya tumbuhan disebut oleh para sufi dan filosof Muslim sebagai “nafs” atau jiwa, yang menjadi ciri khas makhluk hidup.
Berdiri di atas dunia tumbuh-tumbuhan adalah dunia hewani, yang, seperti halnya dunia tumbuh-tumbuhan dibanding dengan dunia mineral, memiliki daya-daya tertentu yang tidak dimiliki oleh dunia mineral maupun tumbuh-tumbuhan. Daya-daya ini dibagi ke dalam dua macam, yang pertama disebut “penginderaan” (sensation), dan yang kedua “gerak” (locomotion, harakah). Penginderaan dibagi menjadi indera lahir dan indera batin. Indera lahir, yang disebut panca indera, sudah sama-sama kita kenal, karena itu tak perlu lagi diulas di sini. Di antara indera batin yang paling penting adalah “ijaminasi” (al-mutakhayyilah), karena dengan inilah para sufi dapat melihat dunia ghaib dan mempunyai pengalaman-pengalaman mistik, sebagaimana yang diperikan Ibn ‘Arabi (lihat Creative Imagination of Ibn ‘Arabi karangan Henry Corbin). Indera-indera batin yang lainnya adalah “al-hiss al-musytarak” (common senses), “khayal” (retentive faculty), “wahm” (estimative faculty), “al-quwwah al-hafizhah” (memory).
Daya hewani yang kedua, yang disebut “al-harakah” adalah daya yang menyebabkan hewan bisa meninggalkan tempat di mana ia pertama kali berdiri, baik ke arah objek yang menarik, maupun menjauhi objek-objek tertentu yang dipandang berbahaya. Daya yang mendorong hewan bergerak “ke arah” objek yang menarik disebut “nafsu syahwat,” sedangkan daya gerak menjauhi objek yang berbahaya disebut “nafsu ghadhabiyah” (marah).
Berdiri di puncak alam jasmani, adalah dunia manusia, yang sebenarnya termasuk jenis hewani (atau makhluk-makhluk hidup), tetapi memiliki daya-daya tertentu yang tidak dimiliki dunia-dunia (tingkat-tingkat eksistensi) lain di bawahnya. Daya ini oleh kebanyakan sufi disebut “ruh” sedangkan oleh para filosof disebut “akal” “atau “jiwa rasional.” Tetapi baik ruh maupun akal kedua-duanya dipandang sebagai berasal dari dunia ruhani. Melalui “ruh” atau “akal”-nya inilah manusia berpotensi untuk bisa berkomunikasi dengan dunia ruhani. Kalau tidak, maka manusia hanyalah makhluk satu dimensi saja, yaitu dimensi fisik, yang tidak mungkin bisa berkomunikasi dengan dunia non-fisik atau meta-fisik. Tetapi yang istimewa dari manusia, bahkan sebagai makhluk fisik, adalah bahwa dalam dirinya terkendung semua unsur yang ada dalam tingkat-tingkat wujud di bawahnya, seperti tingkat mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Dan mungkin karena itulah manusia sering dipandang sebagai “mikro-kosmos” (dunia kecil).
Bagi para sufi alam dunia adalah cermin dari sifat-sifat Tuhan dan nama-nama indah-Nya (al-asma’ al-husna’). Masing-masing tingkat eksistensi ini dipandang mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Di tingkat mineral, misalnya, keindahan Tuhan tercermin, sampai batas tertentu, dalam batu-batuan atau logam-logam mulia. Dan inilah yang menyebabkan batu-batu dan logam-logam itu disebut “mulia” dan juga begitu besar pesonanya bagi manusia.
Demikian juga dalam dunia tumbuh-tumbuhan, ribuan jenis bunga-bunga dengan aneka warnanya yang unik dan serasi tak henti-hentinya mengilhami para penyair dengan inspirasi yang mengesankan. Begitu pula, pesona yang diberikan oleh berbagai jenis hewan yang sangat beraneka bentuk dan posturnya. Tetapi dari semua makhluk yang ada di alam dunia, tidak ada yang bisa mencerminkan sifat-sifat Tuhan secara begitu lengkap kecuali manusia. Ini karena, manusia sebagai “mikro-kosmos”, yang terkandung di dalamnya seluruh unsur kosmik, “bisa” mencerminkan seluruh sifat ilahi dengan sempurna, ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yang disebut “insan kamil,” manusia sempurna atau manusia universal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar