Selasa, 12 Juli 2011

MAKRIFAT

PENERTIAN MAKRIFAT

Ma’rifat

MA’RIFAT adalah sejenis pengetahuan dengan mana para Sufi menangkap hakikat atau realitas yang menjadi obsesi mereka. Ma’rifat berbeda dengan jenis pengetahuan yang lain, karena ia menangkap objeknya secara langsung, tidak melalui representasi, image atau simbol dari objek-objek penelitiannya itu.
Seperti indera menangkap objeknya secara langsung, demikian juga ‘hati’ atau intuisi menangkap objeknya secara langsung. Perbedaanya terletak pada jenis objeknya. Kalau objek indera adalah benda-benda inderawi (mahsusat), objek-objek intuisi adalah entias-entitas spiritual (ma’qulat). Dalam kedua modus pengetahuan ini manusia mengalami objek-objeknya secara langsung, dan karena itu ma’rifat disebut sebagai ilmu eksperiensial (dzauqi), yang biasanya dikontraskan dengan pengetahuan melalui nalar (bahtsi). Tetapi, walaupun sama-sama melalui pengalaman seseorang, tetapi hubungan orang itu dengan objeknya berbeda. Dalam pengenalan inderawi, objek-objek itu berada di luar dirinya, dan dikaitkan dengannya melalui ‘representasi”, sedangkan objek-objek intuisi, hadir begitu saja dalam diri orang itu, dan karena itu sering disebut ‘ilmu hudhuri” dan bukan “ilmu hushuli,” yakni ilmu yang diperoleh melalui latihan dan percobaan.
Ma’rifat dapat dibedakan dari ilmu-ilmu rasional, di mana pemilahan antara subjek dan objek begitu dominan dan jarak antara keduanya sangatlah lebarnya. Walaupun ilmu-ilmu rasional atau tepatnya akal sama-sama menangkap objek-objek ma’kulat, sebagaimana intuisi, tetapi cara keduanya berbeda. Sementara akal menangkap objek-objek non-fisik melalui objek-objek yang telah diketahui, jadi bersifat inferensial, intuisi menangkap objek-objeknya langsung dari sumbernya, apakah Tuhan atau malaikat, melalui apa yang dikenal sebagai “penyingkapan” (mukasyafah) atau “penyinaran” (iluminasi) dan “penyaksian” (musyahadah). Penyingkapan ini bisa terjadi dalam keadaan jaga atau mimpi, dapat mengambil bentuk ilham atau wahyu, atau terbukanya kesadaran hati akan kenyataan yang selama ini tersembunyi demikian rapat.
Ma’rifat tidak dapat diraih melalui jalan inderawi, karena menurut Rumi, itu seperti mencar-cari mutiara yang berada di dasar laut hanya dengan datang dan memandang laut dari darat. Ma’rifat juga tidak bisa diperoleh lewat penggalian nalar, karena itu akan sama seperti orang yang menimba laut untuk mendapatkan mutiara itu. Untuk memperoleh mutiara ma’rifah orang membutuhkan penyelam ulung dan beruntung; dengan kata lain butuh seorang mursyid yang berpengalaman. Bahkan Rumi mengingatkan bukan hanya sekedar penyelam ulung, tetapi juga beruntung, yakni bergantung pada kemurahan Tuhan, karena tidak semua kerang yang ada di laut mengandung mutiara yang didamba.
Ma’rifat, seperti yang telah dikemukakan, berdasar pada pengalaman; artinya ia harus dialami, bukan dipelajari. Seperti untuk memahami manis, akan bisa dengan mudah dilakukan dengan mencicipi gula. Mencoba memahaminya lewat keterangan orang lain, atau membaca buku akan memperoleh pengetahuan yang semu. Paling banter, kita hanya bisa menghampirinya tanpa bisa menyentuhnya. Ma’rifat tidak bisa dipelajari dari buku, bahkan buku para Sufi sekalipun. Ketika kita datang kepada seorang mursyid, maka ia akan mengajak kita melakukan disiplin-disiplin spiritual yang keras, agar kita mengalami pengalaman-pengalaman mistik atau keagamaan sendiri, dan dengan begitu bisa mencicipinya sendiri. Buku bagi seorang Sufi hanyalah simbol, karena terdiri dari huruf-huruf yang tidak lain daripada simbol yang disepakati. Tapi bisakah kita menyunting sekuntum mawar dari W.A.W.A.R?
Perbedaan lain antara ma’rifat dan jenis pengetahuan yang lain adalah cara memperolehnya. Jenis pengetahuan biasa diperoleh melalui usaha keras, seperti belajar, merenung dan berfikir keras melalui cara-cara berpikir yang logis. Jadi, manusia memang betul-betul berusaha dengan segenap kemampuannya untuk memperoleh objek pengetahuannya. Tetapi ma’rifat tidak bisa sepenuhnya diusahakan manusia. Pada tahap akhir semuanya tergantung pada kemurahan Tuhan. Manusia hanya bisa melakukan persiapan (isti’dad) dengan cara membersihkan diri dari segala dosa dan penyakit-penyakit jiwa lainnya atau akhlak yang tercela. Ibarat kaca yang dipasang untuk menerima cahaya matahari ke dalam rumah hati kita, kaca tersebut harus senantiasa dibersihkan dari segala debu yang menempel di permukaannya, agar ketika sinar matahari tersebut masuk atau hadir, kaca kita siap mengantarnya masuk ke dalam jantung rumah kita dan memberi cahaya kepada sekitarnya. Dengan begitu terjadilah iluminasi terhadap benda-benda yang ada di sekitarnya, dan membuat benda-benda yang tadinya tak nampak atau remang-reman menjadi jelas dan cemerlang.[]

Ma’rifah

OPINI | 21 April 2011 | 18:47 152 0 Nihil
MA’RIFAH
Pengertian Tujuan Dan Kedudukan Ma’rifah
Dari segi bahasa ma’rifah berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman Dan dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang biasa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifah adalah pengetahuan yang obyeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, tetapi lebih mendalam terhadap batinnya dengan mengetahui rahasianya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan, dan hakikat itu satu, dan segala yang maujud berasal dari yang satu.
Selanjutnya ma’rifah digunakan untuk menunjukan, pada salah satu tingkatan dalam tasawuf. Dalam arti sufistik ini, ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan: melalui hati sanubari. Pengetahuan itu demikian lengkap dan jelas sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu, yaitu Tuhan. Selanjutnya Harun Nasution mengatakan bahwa ma’rifah menggambarkan hubungan rapat daiam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari.
Seterusnya al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai ma’rifah tentang Tuhan, yaitu arif, tidak akan mengatakan ya Allah atau ya rabb karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan bahwa Tuhan ada di bekalang tabir. Orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil temannya itu.
Tetapi bagi al-Ghazali ma’rifah urutannya terlebih dahulu daripada mahabbah, karena mahabbah timbul dari ma’rifah. Namun mahabbah yang dimaksud al-Ghazali berlainan dengan mahabbah yang diucapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah, yaitu mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya, cinta yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang memberi manusia hidup, rezeki, kesenangan dan lain-lain. Al-Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa ma’rifah dan mahabbah itulah setinggi-tinggi tingkat yang dapat dicapai seorang sufi. Dan pengetahuan yang diper­oleh dari ma’rifah lebih tinggi mutunya dari pengetahuan yang diperoleh dengan akal.

Imam Al Gazali - Perbedaan Ilmu dan Ma'rifah
Submited By irwan
Wednesday, 14-January-2009 1114 clicks Send this story to a friend Printable Version

Perbedaan Ilmu dan Ma'rifah
Imam Al Gazali
     Ma'rifah adalah esensi taqarrub (pendekatan pada Tuhan). Ma'rifah merupakan hasil penyerapan jiwa yang mempengaruhi kondisi jiwa seorang hamba yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh akd-vitas ragawi. Ilmu, diibaratkan seperti melihat api sementara ma'rifah ibarat cahaya yang memancar dari nyala api tersebut.      Ma'rifah secara etimologis adalah pengetahuan tanpa ada keraguan sedikit pun. Dalam terminologi kaum Sufi, ma'rifah disebut pengetahuan yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ketika pengetahuan itu terkait dengan persoalan Zat Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya.
      Jika ditanya, "Apa yang dimaksud dengan ma'rifah Zat dan apa pula maksud dari ma'rifah sifat?" Maka jawabnya: "Ma'rifah Zat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. itu Wujud dalam Keesaan, Tunggal, dengan segala Keagungan yang bersema-yam dalam diri-Nya, dan ddak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Adapun ma'rifah sifat, adalah me-ngetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. Maha-hidup, Maha Mengetahui, Mahaberkuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat dan dengan segala sifat Kemaha-sempurnaan lainnya."
      Jika ditanya: "Apa rahasia ma'rifah itu?" Rahasia dan ruhnya adalah ke-tawhid-an. "Yaitu dengan men-sucikan segala sifat; Hidup, Mengetahui, Kuasa, Kehendak, Mendengar, Melihat, berfirman-Nya dari penyerupaan dengan sifat-sifat makhluk. Karena, tidak ada serupa bagi-Nya."
      Lalu manakala ditanya, "Apa tanda-tandanya?" Tanda-tandanya adalah hidupnya hati bersama-Nya. Allah Swt. mewahyukan pada Nabi Dawud As, "Mengertikah kau, apakah ma'rifah-Ku itu?" Nabi Dawud menjawab, "Tidak." Allah berfirman: "Hidupnya kalbu dalam musyahadah kepada-Ku."
     Kalau ditanyakan, "Pada tahap atau maqam manakah hakikat kema'rifahan itu dibenarkan?" Jawabnya, "Pada tahap musyahadah (penyaksian), dan ru'yab (melihat) dengan segenap nurani (sirr). la melihat untuk mencapai ma'rifah, dan hakikat ma'rifah berada dalam badn mereka, lalu kemudian Allah Swt. menyingkap sebagian tabir penutup. Lantas diper-lihatkan pada mereka Cahaya Zat dan Sifat-sifat-Nya, dari balik tabir itu, agar mereka melihat-Nya. Tabir ddak disingkap secara keseluruhan, supaya mereka tidak terbakar."
Sang Sufi bersyair:
Seandairya Aku tampak tanpa hijab,
Tentu Aku telah menjadikan semua manusia sempuma
Namun hijab itu begitu lembut
Sehingga mampu membangkitkan hidup jiwa para perindu
 
      Petampakan keagungan-Nya akan melahirkan perasaan takut (khawf), dan rasa kewibawaan (haybah). Petampakan kebajikan (al-husn) dan keindahan (al-jamat) tentu akan melahirkan kerinduan (asy-syawq). Sementara petampakan sifat-sifat-Nya akan melahir­kan kecintaan. Dan petampakan Zat, melahirkan ke-tawhid-an.
      Sebagian ahli ma'rifah: "Demi Allah Swt., seseorang tidak akan menggapai apa pun dari dunia melainkan Allah Swt. akan membutakan hatinya, dan semua amalannya akan sia-sia. Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahayanya. Dan Allah Swt. juga menjadikan hati dalam kegelapan, cahaya ma'rifah-lah yang akan menyinarinya. Tatkala mendung menjelang, maka sirnalah cahaya matahari dari bumi. Dan ketika cinta dunia hadir dalam hati seorang hamba maka cahaya ma'rifah pun akan menyingkir darinya."
      Ada pula yang mengatakan: "Hakikat dari ma'rifah adalah cahaya yang menyeruak dari kalbu seorang Mukmin, dan tiada sesuatu yang lebih mulia dalam had sesorang hamba kecuali ke-ma'rifah-an."
      Sinyalir lain: "Matahari yang menerangi hati seorang ahli ma'rifah lebih cemerlang dan bercahaya dibandingkan dengan cahaya matahari yang sesungguhnya. Karena matahari pada sore hari harus tenggelam, sementara matahari ahli ma'rifah dada akan pernah tenggelam meski malam riba."
     Mereka mendendangkan satu bait syair:
Sang surya akan tenggelam dengan datangnya malam,
Lain halnya dengan matahari kalbu yang tiada pernah tenggelam
Siapa pun yang mencinta kekasihnya
la akan terbang menemuinya dengan segala kerinduan
          Zu an-Nun al-Misri berkata: "Hakikat ma'rifah adalah mengetahui rahasia-rahasia Yang Haqq melalui perantara kelembutan cahaya."
       la menulis:
Bagi orang 'arif, kalbu menjadi mata mereka
Untuk menatap Cahaya llahi yang tersimpan di balik hijab
la tuli dari segala makhluk, dan dibutakan daripandangan mereka
Bisu untuk menjawab ajakan mereka yang berucap dusta
         Ketika mereka ditanya, "Kapankah seorang hamba dapat diketahui kalau ia telah ma'rifah?" Yaitu ketika tidak ada lagi tempat tersisa di dalam hatinya sebagai singgasana bagi selain-Nya.
        Ada lagi yang mengatakan bahwa, hakikat ma'rifah adalah musyahadah dengan Yang Haqq tanpa melalui mediasi, tanpa dengan metode, dan tidak juga dapat diumpamakan. Seperti diceritakan dari kisah 'Ali Ibn Abi Thalib kerika ia ditanya: "Ya Amirul Mukminin, Apakah Anda telah menyembah apa yang Anda lihat, atau Anda menyembah yang tidak Anda lihat?" Beliau menjawab: "Tidak. Aku menyembah Zat yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, melainkan dengan penglihatan kalbu."
         Ja'far as-Sadiq juga pernah ditanya: "Apakah Anda melihat-Nya?" Beliau menjawab: "Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak bisa kulihat." la pun ditanya lagi: "Lalu bagaimana Anda melihat-Nya sementara la tidak dapat dilihat dengan mata kepala." Ja'far kembali menjawab: "Aku tidak akan mampu melihat-Nya dengan pandangan mata, tapi melihat-Nya dengan mata hati melalui hakikat keimanan. Dia tidak kasat indera dan tidak pula dapat diukur oleh manusia."
         Sebagian ahli ma'rifah lain juga pernah ditanyai mengenai hakikat kema'rifahan, dan mereka menyatakan: "Hakikat ma'rifah adalah mensucikan rahasia dan segala kehendak, meninggalkan segala kebiasaan, menentramkan hati tertuju kepada-Nya tanpa melalui mediasi, dan meninggalkan sikap berpaling dari Allah Swt. dengan beralih pada selain-Nya. Karena ma'rifah pada substansi Zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan juga hakikat-Nya, tidak mungkin dapat dicapai kecuali hanya dengan-Nya yang Mahaluhur dan Mahabijak. Segala puji hanya bagi-Nya."

Source : Mi'raj as-Salikn, Imam Al Gazali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar