Selasa, 12 Juli 2011

TASAWUF

KARENA sifatnya yang universal baik dalam arti ruang maupun waktu, sebuah sistem spiritual, seperti tasawuf, mungkin saja menerima pengaruh dari sistim lain yang ada sebelumnya, seperti juga mungkin saja ia mempengaruhi sistim dam disiplin spiritual yang lain. Karena itu, kalau tasawuf, sebagai aspek spiritual Islam, dikatakan telah dipengaruhi oleh unsur-unsur mistik atau filosofis yang ada sebelum Islam, seperti mistisisme Kristen, Hindu, atau sistem filsafat Neo-platonisme atau Stoikisme, maka hal itu boleh-boleh saja. Tetapi itu sekali-kali tidaklah berarti bahwa Islam sendiri sebagai agama tidak cukup untuk memberikan basis bagi kehidupan spiritualnyanya sendiri. Andaikan sistim-sistim mistik dan filosohis pra-Islam tidak pernah ada, maka saya yakin bahwa mistisisme Islam atau tasawuf ini akan tetap tumbuh, karena spiritualitas pada hakikatnya merupakan kebutuhan esensial manusia, kapan saja dan di mana saja. Dan itulah sebabnya mistisisme dengan segala variasi dan kesamaannya bisa dan telah tumbuh dalam tradisi dan bangsa manapun di dunia ini. Demikianlah, maka Islam telah memberikan beberapa basis bagi tumbuhnya sistim spiritualnya sendiri yang kita sebut tasawuf.
Sebagai sebuah sistem spiritual, tasawuf tentu memiliki basis filosofis, di atas mana seluruh bangunan spiritualnya didirikan. Basis filosofis tersebut tidak lain daripada basis atau prinsip bagi seluruh yang ada di alam semesta ini, yaitu Tuhan. Tuhan adalah basis ontologis bagi segala sesuatu, yang tanpa-Nya, segala yang ada ini akan kehilangan pijakannya. Para Sufi menyebut prinsip ini sebagai Kebenaran (al-Haqq). Disebut al-Haqq, karena Dialah satu-satunmya yang ada dalam arti yang sesungguhnya, yang mutlak, sementara yang lain bersifat nisbi atau majazi.
Para Sufi menggambarkan Tuhan sebagai subuah prinsip yang menyeluruh dan palipurna. Dari sudut pandang waktu, Dia adalah yang awal dan yang akhir, dalam arti Dialah asal dan tempat kembali segala yang ada. Dari sudut ruang, Dia adalah yang lahir dan yang batin, yakni yang imanen dan yang transenden. Dan konsep Realitas yang palipurna ini sepenuhnya didasarkan pada ayat al-Qur’an, tepatnya surat 57 ayat 3 yang berbunyi, “Dialah yang Awal dan Yang akhir, yang Lahir dan yang Batin.”
Esensi dari sebuah sistem mistisisme adalah perasaan dekat dengan Tuhan. Dan perasaan dekat ini dinyatakan dalam perasaan Sufi akan kehadiran Tuhan di manapun ia berada. Kehadiran Tuhan ia rasakan baik dalam dirinya maupun di alam yang mengelilinginya. Tentang kedekatan dan kehadiran Tuhan di mana-mana ini, para Sufi menemukan basis-basisnya dalam al-Qur’an sendiri. Surat al-Baqarah ayat 186 menyatakan bahwa Tuhan amat dekat dengan hamba-Nya, dan bahwa Ia akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya apabila ia betul-betul memohonnya; sementara ayat lain dari surat yang sama (ayat 115) menyatakan bahwa ke mana saja kita berpaling, di sana ada wahaj Tuhan, dan itu karena Tuhan memiliki dan meliputi seluruh alam semesta, timur dan baratnya dunia. Ibarat matahari yang karena ketinggian dan kebesarannya bisa terlihat di mana saja tanpa harus mengimplikasikan kegandaan atau keanekaan dalam jumlah. Bahkan surat Qaf, ayat 16 menunjukkan bahwa Tuhan lebih dekat kepada manusia dari pada urat nadi lehernya sendiri. Karena itu dikatakan Tuhan mengetahui bahkan apa yang hanya dibisikkan oleh jiwa manusia. Dikisahkan bahwa Abu al-Hasan al-Nuri, seorang sufi abad ke 9 masehi, dibawa ke pengadilan atas tuduhan bahwa ia telah berkata, “Tadi malam aku telah berduaan saja dengan Tuhan di rumahku.” Ketika dimintai keterangan atas pernyataan tersebut, ia membenarkan pernyataan itu berasal darinya, dan ia mencoba membelanya dengan mengutip ayat “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadi lehernya sendiri,” seraya berkata bahwa bahkan pada saat ini dan di sini, di pengadilan ini, ia sedang berada dengan Tuhan, sebagaimana halnya orang-orang yang hadir di pengadilan tersebut.
Selain kesemestaan Tuhan dan perasaan dekat atau kehdiran-Nya, al-Qur’an juga memiliki ayat-ayat lain yang dijadikan sebagai basis konseptual Sufi tentang cinta (mahabbah). Surat Ali ‘Imran, ayat 30, secara hipotetik menyatakan kemungkinan terjadinya cinta timbal balik antara Tuhan dan hamba-Nya. “Katakanlah, jika kamu mencintau Tuhan, maka ikutikah aku (Nabi), niscaya Tuhan akan mencintaimu.” Pada masa al-Nuri hidup, menyatakan bahwa seseorang mencintai Tuhan, dan Tuhan mencintainya, dianggap sebagai skandal dan telah merendahkan martabat Tuhan, karena telah mengandaikan Tuhan sama derajatnya dengan hamba. Ketika al-Nuri dimintai keterangan tentang pernyataannya bahwa ia mencintai Tuhan, dan Tuhan mencintainya, maka ia berkata bahwa pernyataan tersebut tidak lain daripada ulangan dari pernyataan Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa, “Akan datang suatu kaum yang Tuhan cintai dan mereka mencintai-Nya” (Surat al-Ma’idah ayat 54).
Di samping al-Qur’an, hadits-hadits Nabi juga memberi basis yang sama-sama kuatnya terhadap konsep-konsep tertentu para Sufi. Hadits yang menyatakan, “barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya,” telah diambil kaum Sufi sebagai basis bagi konsep ma’rifat, yakni pengetahuan sejati yang diperoleh secara langsung dari sumbernya sendiri. Hadits tersebut telah dijadikan sebagai basis bagi sebuah modus pengetahuan yang berbeda dari modus pengetahuan biasa, yakni apa yang kita kenal sebagai “ilmu hudhuri.” Demikian juga hadits yang menyatakan Tuhan sebagai “pusaka yang terpendam” (Kanzan makhfiyyan), telah dijadikan basis bagi konsep tajalliat Tuhan, di mana diyakini bahwa alam semesta merupakan manifestasi (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan sendiri, dan punya hubungan eksistensial dengan-Nya.
Kiranya dengan ini dapatlah disimpulkanb bahwa ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits tersebut telah menjadi indikasi yang memadai bagi adanya basis Islami bagi konsep-konsep dasar dan fundamental yang telah membentuk secara permanen spiritualitas Islam yang kita sebut tasawuf, atau mistisisme Islam ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar